PACITAN–Ketua Umum Asosiasi Wali Santri At-Tarmasie (AWSAT), Dr. Mukodi, M.S.I., mengajak para alumni pesantren untuk melanjutkan studi ke Institut Agama Islam Attarmasie (IAIT) Pacitan. Ajakan itu disampaikan usai pelantikan Rektor IAIT, Prof. Dr. Musa Asy’arie, beserta jajaran pejabat struktural lainnya pada Kamis (12/6/2025).
Menurut Dr. Mukodi, IAIT bukan sekadar kampus biasa. Lembaga pendidikan tinggi ini dirancang untuk menggabungkan kekuatan keilmuan dengan kedalaman spiritual ala pesantren. “Saya mengajak kepada para alumni pondok pesantren dan para calon cendekia muda lainnya agar menimba ilmu di IAIT. Nyambung sanad keilmuan keislaman dan kepesantrenan, menuju manusia yang memiliki integrasi keilmuan sekaligus transendensi,” kata Mukodi.
Konsep integrasi dan transendensi ini, menurutnya, menjadi kunci dalam membangun karakter lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat secara spiritual. “Jangan ragu memilih IAIT. Ini tempat yang tepat untuk memperkuat akar keislaman sekaligus meraih prestasi akademik,” imbuhnya.
Pelantikan 37 pejabat IAIT itu berlangsung khidmat di kampus setempat. Para pejabat yang dilantik meliputi wakil rektor, dekan fakultas, hingga kepala unit teknis seperti UPT Bahasa, Ma’had, TIPD, dan Perpustakaan. Pengangkatan mereka berdasarkan SK Rektor IAIT Nomor 01.02/IAIT/SK/V/2025.
Prof. Dr. Musa Asy’arie menyampaikan bahwa pelantikan ini bukan hanya seremoni, tetapi bagian dari proses besar menuju transformasi IAIT menjadi universitas. “Pelantikan ini adalah langkah awal untuk membawa IAIT naik kelas. Kita menargetkan dalam dua atau tiga tahun ke depan, IAIT bisa bertransformasi menjadi universitas,” ujar mantan rektor UIN Sunan Kalijaga itu.
Ia juga menambahkan, IAIT akan terus mengembangkan kualitas akademik dengan tetap menjaga nilai-nilai pesantren yang menjadi akar kekuatannya. “Kita tidak ingin kehilangan ruh keilmuan klasik, tapi juga harus siap dengan tantangan zaman,” tegas Musa.
Dukungan terhadap cita-cita besar IAIT juga datang dari sejumlah tokoh pendidikan. KH. Luqman Harits Dimyathi, Ketua Majelis Ma’arif, berharap IAIT tumbuh sebagai perguruan tinggi Islam modern yang mampu menjawab tantangan zaman, tanpa melepaskan akar tradisinya. “IAIT harus menjadi rumah besar bagi pengembangan ilmu yang berkarakter. Modern, tapi tetap punya akar. Global, tapi tidak kehilangan nilai lokal,” kata Luqman.
Hal senada juga disampaikan KH. Fu’ad Habib Dimyatie, Pimpinan Umum Pondok Tremas. Ia bersyukur atas pelantikan rektor dan jajaran pejabat IAIT. Menurutnya, kehadiran IAIT merupakan anugerah besar bagi dunia pendidikan Islam, khususnya di Pacitan dan sekitarnya. “Semoga IAIT menjadi kebanggaan kita semua. Bermanfaat bagi umat, bangsa, dan agama,” tuturnya.
Sejumlah tamu undangan hadir dalam pelantikan tersebut. Mulai dari para masyayikh Pondok Tremas, dosen, hingga tokoh masyarakat. Suasana berjalan penuh kekeluargaan, namun sarat dengan semangat membangun.
Dengan pelantikan tersebut, IAIT menandai awal baru menuju lembaga pendidikan tinggi Islam yang lebih kuat dan berdaya saing. Tak hanya menjadi tempat belajar, IAIT diharapkan mampu mencetak generasi muda yang berpikir luas, berakhlak kuat, dan siap berkontribusi untuk negeri. (*)